
Riwayat Menjadi Manusia
karya: Rameyzo Elya Nurfahani (XI-7)
Bukan kelas yang membatasi langkah,
melainkan cara kita memaknai arah.
Sebab ilmu tak lahir dari paksa,
tapi dari jiwa yang ingin merdeka.
Di depan, cahaya ditunjukkan,
di tengah, api dinyalakan,
di belakang, doa dilantunkan,
agar tumbuh tanpa kehilangan tujuan.
Pendidikan bukan sekedar tahu,
melainkan menjadi sesuatu.
yang utuh, yang sadar yang hidup,
di tengah dunia yang terus berubah.
Dan guru bukan penguasa kata,
ia penjaga pintu semesta,
membuka lalu membiarkan kita
menemukan arti menjadi manusia.

Epik, Sang Penyala Obor
Karya: Fabian Khalif Alraffy
Di bawah langit Hindia,
berselimut kabut kolonial.
Putra, menanggalkan suratnya..
untuk membalur luka bangsa.
“Ing Ngarsa Sung Tulada”
Di awal, sang putra menjadi obor
Menolak diam, dibalik tembok kepatuhan
Hingga fajar bergerak,
pergerakan mulai menyingsing
Sang Putra, Berdiri di garis depan
membawa pena tajam, yang mampu menggerakkan penjajah.”
Ing Madya Mangun Karsa”
Di tengah, sang putra yang membakar semangat
Di antara hiruk pikuk perjuangan
dan pengasingan di negeri seberang.
Ia Kembali ke tengah-tengah rakyat.
Menanggalkan ningratnya
Duduk bersila, Bersama anak-anak bangsa yang haus akan ilmu
Menyalakan api kemauan, milik anak bangsayang sempat layu oleh penindasan.
“Setiap jiwa, memiliki hak untuk merdeka,” bisiknya
“Tut Wuri Handayani”
Di akhir, sang putra menjaga apinya agar tidak padam
Ada masa, dimana sang putra memilih berdiri di belakang.
Dari jauh, dengan senyum tulus.
Menatap anak-anak yang menyalakan obor mereka.
Kobaran api yang membara dengan hebatnya, lebih dari sang putra.
Kini, Ia takjub akan kobaran api yang membara, dengan hebat.

Hari Pendidikan
Karya : Arief Syaifulloh (XI-11)
Pagi datang dengan kapur di ujung jemari,
dan papan tulis yang menyimpan ribuan mimpi.
Di bangku kayu yang kadang berderit pelan,
lahir cita-cita yang belum sempat disebutkan.
Guru berdiri seperti pelita di musim hujan,
menyalakan arah di kepala yang masih berkabut.
Bukan hanya angka, bukan sekadar rumus,
tetapi cara menjadi manusia yang utuh.
Pendidikan bukan gedung yang menjulang tinggi,
melainkan keberanian untuk terus belajar berdiri.
Ia hidup di buku yang kusam,
di doa ibu, di lelah ayah yang diam.
Kami adalah anak-anak dari harapan panjang,
merajut masa depan dengan ilmu yang datang.
Sebab bangsa tidak tumbuh dari tepuk tangan semata,
tetapi dari pikiran yang berani dan hati yang menyala.
Di Hari Pendidikan inikami belajar bahwa masa depan bukan hadiah
Ia Adalah jalan Panjang
yang dibangun dengan pengetahuandan percaya


