
SURAKARTA — Panggung teater menjadi saksi prestasi membanggakan siswa SMA Batik 1 Surakarta. Melalui pementasan Perang Kembang yang mengangkat persoalan tawuran antarpelajar, Teater Prada berhasil meraih Juara I dalam ajang Gelar Sandiwara Jawa I tingkat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak berhenti di sana, Shakilla Alifiana yang memerankan tokoh Ibu juga dinobatkan sebagai Aktris Terbaik. Dua penghargaan ini menjadi bukti bahwa kreativitas, penghayatan, dan kerja sama mampu melahirkan pertunjukan yang kuat sekaligus sarat pesan kehidupan.
Pementasan yang digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah pada 07 Oktober 2026 menjadi saksi kemanangan Teater Prada. Kemenangan tersebut bukan sekadar tentang kemampuan berakting di atas panggung. Melalui Perang Kembang, Teater Prada menghadirkan persoalan yang dekat dengan realitas kehidupan remaja: tawuran yang berawal dari saling ejek di media sosial. Cerita berpusat pada Anta, siswa SMA 17 yang menggerakkan teman-temannya untuk menyerbu SMA 18 hanya karena persoalan ejekan. Keputusan tersebut justru menyeretnya ke dalam persoalan tragis yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kisah Anta menjadi gambaran bahwa konflik yang dianggap sepele dapat membawa konsekuensi serius ketika emosi mengalahkan akal sehat. Dengan mengangkat isu tersebut ke atas panggung, Teater Prada mengajak penonton untuk melihat tawuran bukan sekadar sebagai pertikaian antarkelompok, melainkan persoalan yang dapat mengubah kehidupan banyak orang.
Kekuatan pementasan juga tercermin dalam penghargaan Aktris Terbaik yang diraih Killa. Lewat perannya sebagai tokoh Ibu, Killa berhasil mengantarkan namanya sebagai salah satu penampil terbaik dalam kompetisi tersebut. Penghargaan ini melengkapi keberhasilan Teater Prada meraih posisi tertinggi di ajang Gelar Sandiwara Jawa I.
Kepala SMA Batik 1 Surakarta, Nasrudin, S.Si., M.Pd., mengapresiasi perjuangan para siswa yang telah bekerja keras untuk meraih prestasi tersebut. Baginya, keberhasilan Teater Prada merupakan hasil dari kesungguhan para siswa dalam menjalani proses latihan dan mempersiapkan pementasan.
Apresiasi ini sekaligus menegaskan pentingnya dukungan sekolah terhadap pengembangan bakat, minat, dan kreativitas siswa. Melalui kegiatan seni, para siswa tidak hanya belajar tampil di hadapan publik, tetapi juga mengasah kedisiplinan, tanggung jawab, keberanian, dan kemampuan bekerja sama.
Sementara itu, pembina Teater Prada sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Humas SMA Batik 1 Surakarta, Suryono, S.S., M.Si. menyoroti kekuatan utama pementasan tersebut, yakni penjiwaan karakter dan keselarasan seluruh unsur pertunjukan.
“Penjiwaan tokoh dan keselarasan seluruh komponen, baik antartokoh cerita maupun dengan musik, sangat luar biasa,” ungkap Suryono.
Menurutnya, pementasan teater yang kuat lahir dari keterpaduan berbagai unsur. Kemampuan pemain dalam mendalami karakter harus berjalan seiring dengan dialog, gerak, ekspresi, dan musik pengiring. Ketika seluruh unsur tersebut menyatu, cerita dapat tersampaikan dengan lebih utuh dan menyentuh penonton.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari proses kreatif yang dijalani para siswa bersama pelatih Teater Prada, Idham Ardhi. Proses latihan menjadi ruang bagi para pemain untuk mendalami karakter, memahami konflik cerita, dan membangun kekompakan agar setiap bagian pementasan saling mendukung.
Kompetisi Gelar Sandiwara Jawa I tingkat Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut menghadirkan dewan juri yang terdiri atas Budi Bodhot, Budi Waluyo, dan Sutrisno Pelog. Di hadapan dewan juri, Teater Prada berhasil membuktikan kemampuannya melalui pementasan yang menggabungkan kekuatan cerita, penghayatan tokoh, dan keselarasan musik.
Bagi SMA Batik 1 Surakarta, capaian ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mendukung perkembangan seni dan budaya di lingkungan sekolah. Prestasi tersebut juga memperlihatkan bahwa panggung teater dapat menjadi media pembelajaran yang bermakna, tempat siswa mengolah kreativitas sekaligus menyuarakan persoalan sosial.
Melalui Perang Kembang, Teater Prada tidak hanya membawa pulang gelar juara, tetapi juga menyampaikan pesan penting: konflik yang bermula dari hal sepele dapat berujung serius, dan seni memiliki kekuatan untuk mengajak generasi muda belajar dari kehidupan.


