
Asesmen bukan sekadar mengukur siapa yang lulus kompetensi, melainkan bagian dari proses belajar yang membantu guru menyesuaikan pengajaran dan membantu murid berkembang. Di Indonesia, asesmen saat ini menekankan keberagaman bentuk dan fungsi: formatif, sumatif, diagnostik, dan berbagai bentuk asesmen autentik yang memosisikan murid pada tugas nyata. Pelaksanaan asesmen pun memiliki alat asesmen yang beraneka ragam.

Alat asesmen (instrumen penilaian) adalah sarana yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi mengenai pencapaian kompetensi, pemahaman, keterampilan, sikap, atau karakteristik peserta didik, karyawan, atau subjek lainnya. Terdapat berbagai bentuk alat asesmen yang dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan, bentuk, dan konteks penggunaannya. Berikut adalah beberapa bentuk-bentuk instrumen asesmen:
1. Tes, meliputi tes tertulis dan tes lisan
2. Tes Praktik
3. Observasi
4. Portofolio
5. Penilaian Diri
6. Penilaian teman sejawat
7. Penilaian Projek
8. Studi Kasus
9. Angket/Kuisioner
Panduan resmi Kementerian menegaskan pentingnya asesmen formatif sebagai alat umpan balik selama proses pembelajaran, sementara asesmen sumatif digunakan untuk pelaporan capaian. Berikut ringkasan bentuk-bentuk asesmen yang sering direkomendasikan pakar dan panduan nasional, disertai manfaat singkat tiap bentuk sebagai berikut.
Asesmen Formatif
Asesmen formatif berfungsi untuk memantau proses belajar dan memberi umpan balik cepat agar pembelajaran bisa disesuaikan. Kemendikbud menekankan asesmen formatif sebagai prioritas karena berorientasi pada perkembangan kompetensi peserta didik. Bentuk/instumen yang dapat digunakan berupa: kuis singkat, pemeriksaan tugas harian, diskusi terstruktur, exit ticket.

Asesmen Sumatif
Asesmen Sumatif berfungsi untuk mengukur capaian akhir (misal ujian akhir, nilai raport) untuk pelaporan. Contohnya ujian akhir semester, ulangan akhir mata pelajaran, dan asesmen nasional. Asesmen sumatif perlu dirancang adil dan valid agar hasilnya dapat dipercaya sebagai gambaran pencapaian.
Asesmen Diagnostik
Asesmen Diagnostik berfungsi untuk mengetahui kesulitan/kelemahan awal siswa agar strategi remedial atau pengayaan bisa diterapkan. Contohnya pra-tes, penilaian awal kompetensi. Panduan dan buletin pusat mutu pendidikan merekomendasikan penggunaan diagnostik untuk perencanaan pembelajaran.
Asesmen Autentik (kinerja, proyek, portofolio, diri)
Asesmen Autentik berfungsi untuk menilai kemampuan siswa dalam konteks nyata. Asesmen ini tidak hanya menjawab soal, tetapi menunjukkan keterampilan. Bentuk/Instrumennya meliputi: asesmen kinerja (demonstrasi), proyek jangka panjang, portofolio pekerjaan, penilaian diri/teman, presentasi. Pakar seperti Prof. Dewa Bagus Sanjaya menuliskan bahwa asesmen autentik mencakup asesmen kinerja, projek, asesmen diri, dan portofolio sebagai cara mengukur kompetensi dalam konteks bermakna.

Asesmen Nasional & Asesmen Sistemik
Asesmen ini berfungsi untuk menyediakan cermin kualitas sistem pendidikan pada tingkat nasional/sekolah (bukan evaluasi individual semata). Pakar riset pendidikan mendorong pemaknaan Asesmen Nasional sebagai alat transformasi—bukan semata soal peringkat—untuk memperbaiki praktik pembelajaran.
Pakar pendidikan menekankan bahwa jenis asesmen harus dipilih sesuai tujuan: memberi umpan balik (formatif), memetakan kebutuhan awal (diagnostik), melaporkan capaian (sumatif), atau mengukur keterampilan aplikasi (autentik). Dengan kombinasi ini, guru tidak hanya mengukur saja, tetapi juga membantu siswa memperbaiki dan mengembangkan kompetensi bernilai abad-21 (kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi).
Daftar Referensi
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2022. Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta: kemdikbudristek.
Sanjaya, Dewa Bagus. 2020. Asesmen Autentik. Universitas Pendidikan Ganesha Press.


