

“Kami datang untuk belajar, bukan sekadar berkunjung. Ada banyak praktik baik di SMA Batik 1 Surakarta yang ingin kami pelajari secara konkret.” ujarnya.
“Studi tiru harusnya menjadi momentum untuk saling mengkritisi model pengelolaan pendidikan. Jika hanya tukar program tanpa tindak lanjut, maka manfaatnya tidak akan signifikan.” tegas Nasrudin.
Sesi diskusi yang berlangsung setelah sambutan pun memperlihatkan dinamika yang lebih mendalam. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari manajemen sekolah yang adaptif, penguatan kurikulum, transformasi digital pembelajaran, hingga peningkatan mutu guru dan budaya prestasi siswa. Banyak pertanyaan kritis muncul dari pihak Don Bosco, terutama terkait implementasi kelas internasional dan strategi konsistensi mutu yang selama ini menjadi kekuatan SMA Batik 1 Surakarta.

Selain diskusi, rombongan juga melakukan observasi lapangan terhadap fasilitas unggulan, termasuk akses langsung ke kelas internasional—program yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pembeda SMA Batik 1 Surakarta dibanding sekolah lain di wilayah Surakarta. Observasi ini memberi gambaran realistis bahwa keberhasilan program tidak hanya tergantung konsep, tetapi juga pada budaya kerja guru dan kualitas ekosistem sekolah.

Dengan seluruh rangkaian kegiatan tersebut, kunjungan ini membuka peluang kerja sama lanjutan. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada tindak lanjut konkret dari kedua sekolah. Apakah kunjungan ini akan berujung pada kolaborasi pembangunan mutu atau kembali menjadi laporan kegiatan tahunan belaka—hanya waktu dan komitmen masing-masing institusi yang dapat menjawabnya.


