
Guru masa depan perlu mereduplikasi filosofi air untuk menghadapi tantangan dari perubahan dinamis peradaban teknologi. Istilah filosofi air muncul karena memproyeksikan sifat-sifat dan karakter air menjadi semacam filosofi. Air menjadi salah unsur paling dominan dalam menyelimuti permukaan bumi. Sementara, air bersifat mengalir ke bawah, air bersifat tidak memaksa, air bersifat mencari celah, dan air bersifat menampung. Demikian pula dengan guru, perlu mereduplikasi kerangka berfikir filosofi air untuk menyelesaikan tantangan mengajar peserta didik di masa depan.
Tantangan masa depan sangat kompleks akibat kemajuan teknologi. Teknologi sebenarnya bersifat memudahkan, namun penggunaan teknologi juga memiliki pengaruh negatif cukup besar bagi pembentukan karakter peserta didik. Artinya, teknologi bisa menjadi bomerang bagi karakter peserta didik apabila teknologi tidak digunakan dengan tepat. Sebagai ilustrasi, Facebook, Instagram, Twitter, WhatsApp, Threads, maupun platform media sosial lain yang paling biasa digunakan peserta didik sering ditemukan penyebaran konten negatif seperti kata-kata kotor, penyiaran yang tidak pantas, pencemaran nama baik, provokasi, propaganda, ujar kebencian, berita palsu/hoax, intimidasi, penculikan, masalah SARA, dan lain semacamnya. Sementara, kata karakter berasal dari bahasa Yunani charassein yang artinya apa yang diukir (melukis atau menggambar). Karakter tersebut dibentuk oleh kebiasaan dari aspek intellectual, emotional, spiritual, dan social development. Guru masa depan sebagai pioner kemajuan pendidikan berkewajiban untuk mentransfer ilmu pengetahuan, mentransformasikan informasi dan pengalaman ke dalam bentuk keterampilan, serta mengembangkan sikap yang berakhlak mulia. Dengan demikian, guru harus memiliki banyak strategi dan pengalaman (Zulhafizh, 2021: 328).
Guru masa depan dalam menghadapi tantangan pengaruh negatif teknologi perlu mereduplikasi kerangka berfikir daripada filosofi air. Peserta didik bukanlah serupa selembar kertas putih kosong yang sangat bersih. Di dalam diri setiap peserta didik menyimpan karakteristik dan potensi yang berbeda. Karakter dan potensi tersebut dapat berkembang maksimal apabila guru mampu mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik dari hulu ke hilir. Umpama filosofi air yang turun ke bawah, guru masa depan harus berkenan menganalisis kesulitan belajar sampai bawah (akarnya). Lalu, peserta didik yang mampu belajar optimal atau tidak memiliki kesulitan belajar, guru masa depan perlu menanamkan sikap etika moral bertanggung jawab dan sikap kepedulian yang tinggi. Hal tersebut perlu dipupuk agar tidak terlalu overmotivated dan merasa sombong atas kemampuannya. Guru masa depan perlu memberikan pelatihan berpikir kritis dan strategi belajar dengan manajemen waktu yang sesuai sehingga peserta didik dapat mengendalikan emosi agar IQ, EQ, dan SQ berimbang (Alang, 2014: 1-9).
Kemudian, filosofi air tidak pernah memaksa, artinya air mengikis permukaan tanah perlahan-lahan dan tidak memaksa. Guru masa depan harus menyadari bahwa pembelajaran tidak dapat dipaksa, perlu tahapan-tahapan, didesain terperinci, dan diajarkan secara konsisten. Guru masa depan harus menghargai proses belajar sesuai kebutuhan belajar pelajar masa kini. Dalam pemenuhan keutuhan proses belajar pun guru masa depan perlu menguasai teknologi di era society 5.0. Ada beberapa hal yang harus dimanfaatkan oleh guru masa depan di era society 5.0., diantaranya: Internet of things (IoT), Augmented reality, dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) guna untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik (Rahayu, 2021: 87-100).
Tindak lanjutnya pun umpama filosofi air yang selalu mencari celah, guru masa depan tidak boleh mudah menyerah dalam menyikapi dinamika perkembangan karakteristik peserta didik. Guru masa depan dituntut aktif merancang pembelajaran yang inovatif dengan mengintegrasi kecakapan dunia digital dengan unsur-unsur pembelajaran yang bersifat terpadu. Perkembangan teknologi harus diakui berpengaruh terhadap perubahan pola pikir dan perilaku peserta didik. Untuk itu, guru tidak hanya mengubah apa yang dipelajari, namun mencari celah mengubah bagaimana peserta didik masa kini dalam belajar. Guru diharapkan bersifat Capable personal, yaitu memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif. Oleh karena itu, guru masa depan dituntut untuk memahami pembelajaran sepanjang hayat. Artinya, guru masa depan berkewajiban terus belajar dan mengikuti perkembangan terbaru dalam teknologi, metode pembelajaran inovatif, dan terobosan kreatif di bidang pendidikan. Peningkatan diri guru masa depan tersebut akan memungkinkan mereka menjadi pemimpin pendidikan yang berinovasi dan berdaya saing (Zubaidah, 2020: 17).
Filosofi air bersifat menampung segalanya, artinya segenap karakter peserta didik harus diterima tanpa keluh kesah. Berkaitan dengan filosofi ini, guru masa depan dituntut memiliki sikap empati terhadap semua peserta didik. Ketika ada yang butuh perhatian berlebih maka guru harus mampu merasakan serupa perasaan peserta didik tersebut. Guru masa depan dituntut membangun hubungan yang jujur dan tulus dengan peserta didik. Dengan demikian, guru masa depan mampu mendorong peserta didik aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, mengaplikasikan teknologi ataupun sumber daya digital, dan berbagai alat pembelajaran inovatif lainnya (Tarihoran, 2019: 46-58).
Guru masa depan dirasa penting mereduplikasi kerangka berpikir daripada filosofi air untuk menghadapi tantangan dari perubahan dinamis peradaban, yaitu guru masa depan umpama air bersifat mengalir ke bawah, air bersifat tidak memaksa, air bersifat mencari celah, dan air bersifat menampung. Menjadi seorang guru masa depan bukanlah perkara yang mudah, terdapat berbagai tantangan perubahan peran dan berbagai keterampilan, penyesuaian kesenjangan teknologi dan aksesibilitas masa yang terus berkembang, perubahan dalam kurikulum, keamanan dan etika digital, serta perubahan evaluasi dan penilaian. Oleh karena itu, guru masa depan harus mengalir seperti air mengikuti perkembangan peradaban.
Referensi:
Alang, H.M.S. (2014). Guru yang professional memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Journal. Al-Irsyad Al-Nafs, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam Vol. 1, No.1, Hal. 1-9.
Rahayu. (2021). Sinergi Pendidikan Menyongsong Masa Depan Indonesia Di Era Society 5.0. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar ISSN 2721-3935 Vol. 2, No. 1, Hal. 87-100.
Tarihoran, E. (2019). Guru Dalam Pengajaran Abad 21 Jurnal Kateketik Dan Pastoral, Vol. 4, No.1, Hal. 46–58.
Zubaidah, S. (2020). Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan yang Diajarkan Melalui Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan, Vol. 2, No.2, Hal. 17.
Zulhafizh, Z. (2021). Peran dan Mutu Pelaksanaan Pembelajaran oleh Guru di Satuan Pendidikan Tingkat Atas. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian Dan Kajian Kepustakaan Di Bidang Pendidikan, Pengajaran Dan Pembelajaran, Vol. 7, No.2, hal. 328.


