
SURAKARTA — Mengubah paradigma study tour yang sekadar rekreasi menjadi petualangan intelektual, SMA Batik 1 Surakarta menggelar kunjungan edukatif ke Pulau Bali pada 19–23 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai penguatan pembelajaran kokurikuler yang mempertemukan teori di kelas dengan realitas budaya di lapangan.
Sebelum menginjakkan kaki di Pulau Dewata, para siswa telah dibekali kemampuan berpikir kritis. Mereka ditantang untuk mengamati dan menganalisis secara mendalam adat istiadat, dinamika sosial masyarakat Bali, hingga estetika seni dan permainan warna yang menjadi ikon pariwisata dunia tersebut.
Integrasi akademik pun digarap serius. Seluruh guru mata pelajaran menyusun capaian pembelajaran yang relevan, memastikan setiap momen di Bali tetap selaras dengan kurikulum sekolah.
Kepala SMA Batik 1 Surakarta, Nasrudin, S.Si., M.Pd., menekankan bahwa kemampuan adaptasi adalah kunci utama dalam kegiatan ini. “Kami ingin siswa tidak hanya melihat, tapi juga berefleksi. Bali adalah laboratorium hidup. Harapannya, mereka bisa mengambil inspirasi dari kemajuan pariwisata dan budaya di sana untuk dikembangkan menjadi kreasi baru,” jelas Nasrudin.

Inovasi menarik muncul dari sisi kurikulum. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Roby Dwi Hidayat, S.Pd., mengungkapkan bahwa perjalanan ini tidak akan berakhir begitu saja saat bus sampai di Surakarta. Seluruh hasil pengamatan dan refleksi siswa akan dikemas menjadi sebuah majalah digital. Produk literasi ini nantinya akan menjadi dokumentasi pengetahuan yang bisa diakses oleh seluruh warga sekolah.



Semangat eksplorasi siswa mendapat pujian dari tim pendamping. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Mulyono, S.Ag., M.Pd.I., mengaku bangga melihat interaksi aktif para siswa selama di lokasi.
“Antusiasme mereka luar biasa. Banyak yang aktif berdiskusi dengan guide lokal. Rasa ingin tahu (skeptis-positif) dan sikap apresiatif terhadap perbedaan budaya ini adalah bekal karakter yang sangat berharga,” ungkapnya.
Melalui program ini, SMA Batik 1 Surakarta membuktikan bahwa belajar bisa terjadi di mana saja. Fokusnya jelas: membentuk generasi yang terbuka, kritis, dan mampu menghargai keberagaman sebagai modal penting di masa depan.




